Izrail

Tengah malam. Ada suara ketukan di pintu depan. Cukup nyaring untuk diabaikan. Segera kuturunkan selimut. Kuusap muka, dan sekadarnya merapikan rambut.

Siapakah gerangan tamu yang datang di malam buta begini. Pastilah ia membawa kabar genting, atau hajat yang tak boleh ditunda lagi. Ah… ku buka sajalah dulu pintu depan rumahku. Ketukan itu sinyal bahwa si tamu tak kuasa lagi menunggu.

Kuputar anak kunci. Kuturunkan gagang pintu. Masih ada bunyi ketukan.

Kutarik daun pintu. Pelan-pelan. Saat setengah terbuka, tak kulihat siapa-siapa. Kusorongkan kepala. Kutengok ke kiri, ke kanan. Tetap, tak kutemukan siapa-siapa. Lantas, kupalingkan muka kembali ke dalam.

Di salah satu kursi, seperti ada seseorang. Tampaknya laki-laki. Berjubah putih. Berjanggut tipis. Ia seperti keluar dari bumi; tiba-tiba saja ada di kursi. Aku kaget. Nafas di tenggorokanku seolah tinggal satu.

Antara aku yang tertegun penuh tanya, dan sosok lelaki berjubah putih, ada satu perasaan dingin dan hampa, yang aku tak tahu apa namanya. Belum pernah sekalipun kualami perasaan ini. Terlebih ketika kami beradu mata.

Tiba-tiba sekelilingku dipenuhi cahaya putih dan terang. Seolah hanya ada aku. Indah. Hatiku tenteram. Merasa luas dan ringan. Tidak ada bekas kesal atau dendam. Aku sudah memaafkan diriku dan semua orang. (H. Bangga Heriyanto, S. Sos)

NOTES:
Tulisan ini menjadi HL pada tayangan perdana di Kompasiana. Klik di sini untuk melihat tautan.

Dapatkan pemberitahuan update konten via email

Risalah Al-Fathimiyah