Aku Tak Harus Mengubur Cita-citaku

Ini sekelumit cerita tentang masa-masa sekolahku. Cerita tentang perjuangan cita-cita. Mudah-mudahan sahabat semua bisa terinspirasi. 

Teman-temanku cukup mudah untuk berangkat ke sekolah. Mereka bisa diantarkan orangtuanya dan membawa kendaraan sendiri. Beda dengan aku yang harus berjalan kaki ketika pergi dan pulang sekolah.
Aku harus berangkat ke sekolah pagi-pagi, karena aku akan melewati jalan raya yang setiap harinya selalu dipenuhi oleh angkutan karyawan dan kendaraan bermotor. Sementara setiap pulang sekolah aku harus menahan panasnya terik matahari.

Aku tidak pernah merasa malu dan iri pada teman-temanku. Aku tahu diri bahwa pada kenyataannya keadaan hidupku memang seperti ini. Rasa lelah memang selalu aku rasakan, namun tidak pernah aku keluhkan. Aku selalu mengabaikan apa yang aku rasakan.

Tidak pernah peduli sakit yang aku rasakan, yang terpenting untukku adalah belajar demi masa depan dan bisa membuat semua orang bahagia. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita-citaku. Lelah tidaklah penting untukku dan lelah itu bukanlah alasan untuk tidak melakukan aktivitas.

Tidak seberapa kelelahan yang telah aku rasakan sekarang, dibandingkan kedua orangtuaku yang tak pernah berhenti menyayangi anaknya, serta guru-guru yang selalu bersabar dalam mengajar dan bersabar menghadapi muridnya.

Banyak tantangan, halangan, dan rintangan dalam perjalanan menuju sekolahku. Dengan rasa percaya diri dan semangat, semua itu mampu aku lewati. Tidak ada yang tidak mungkin jika selalu ingin mencoba dan ingin berusaha. Jika ada usaha pasti selalu ada jalan terbaik untuk hal yang baik.

Selama aku mengenal masa “putih abu-abu”, aku mendapatkan hal yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan. Aku seakan mengerti tentang diriku sendiri. Aku bisa mengerti arti sebuah kehidupan di sekolah.
Masa yang memberikanku keberanian, kesabaran, keikhlasan, dan yang pasti memberikan suatu hal yang paling berharga. “Putih abu-abu” telah berlalu. Hanya tersisa cerita yang mungkin akan terkenang. “Putih abu-abu” yang membaluti tubuh ini telah terlepas dari tubuh ini. Semua “putih abu-abu” telah menjadi masa lalu.

Rasa lelah kaki melangkah pun kini telah terbayarkan dengan selembar kertas yang bertuliskan “Dinyatakan LULUS”. Karena selembar kertas itulah rasa lelah itu seakan tidak pernah terjadi dalam hidupku. Dan, rasa bahagia itu tidak bisa tersembunyikan, karena yang selama ini aku jalani tidak berakhir buruk.

Lulus saja rasanya belum cukup. Harapanku ingin sekolah lebih tinggi. Namun kenyataan pahit harus kembali aku alami. Aku tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena keadaan yang membuat aku belum bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi.

Tetapi itu bukanlah hal yang buruk untukku. Pada kenyataannya aku memang belum bisa seperti kawan-kawanku yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku percaya, ini bukanlah akhir dari cita-citaku, dan aku tak harus mengubur cita-citaku sampai sini saja.

Aku masih bisa belajar sendiri, dengan membaca dan memahami buku-buku yang aku miiki sekarang ini. Tanpa kuliah pun aku akan berusaha terus untuk menggapai cita-cita yang selama ini aku dambakan. Inilah kisah perjalanan selama aku sekolah duduk di bangku SMK.
(Whanti Zamila, Alumni Angkatan Pertama SMK Al-Fathimiyah)

Dapatkan pemberitahuan update konten via email

Risalah Al-Fathimiyah